Siifah 1

Mengenal Islam secara Kaffah

Kuantum

Kehidupan Muslim Britania Raya

Safari LDJ

Fosif (LDJ Fisika) dan Forsis (LDJ Statistika)

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Menguak Kehidupan Muslim di Jerman


Luthfi Nashirudin bersama Dr. Rer. Nat. Bintoro A.S., M.Si saat Pemberian Souvenir
Telah diadakan Kuantum, Kajian Untuk Umum yang diadakan oleh FOSIF pada hari rabu (13/04). Pemateri Kuantum pada hari tersebut adalah Dr. Rer. Nat. Bintoro A.S., M.Si, dengan tema Kehidupan Muslim di Jerman. Bintoro mengungkapkan pengalaman dan opininya terkait kehidupan kaum muslim di Eropa, terutama di negara Jerman. Beliau juga menceritakan statistik dan pengaruh umat Muslim di Eropa dalam bidang-bidang tertentu. 
Populasi muslim di Eropa (terkecuali di Turki) secara umum memang terbilang kecil, dalam kisaran sekian persen. Namun, hal ini masih bergantung pada negara yang dirincikan. Di Albania, Prancis, dan negara pecahan Uni Soviet secara umum jumlah populasi Islam cukup besar (>10%) menurut survei tahun 2005, sedangkan di negara lain Eropa secara umum persentasenya lebih kecil. Meskipun begitu, jika dilihat dari perkembangan sepuluh tahun terakhir, jumlah Muslim di Eropa dan Amerika Serikat diperkirakan akan meningkat menurut para pengamat.  
Secara umum, populasi muslim di Eropa terbagi atas imigran (yang berpindah dari negeri asalnya) dan penduduk asli suatu negeri. Di negara pecahan Uni Soviet sebagian besar umat muslim adalah penduduk asli negeri tersebut, walaupun sayangnya kegiatan religius di sana dalam banyak bentuk dikekang. Di negara Jerman, muslimnya dominan dari Turki. Sedangkan di Inggris dan Belanda secara berturut-turur umat Muslimnya terutama berasal dari Pakistan dan Afrika Utara. 
Kaum Muslim Eropa memiliki peranan penting dalam sejarah sains dan keagamaan dunia (secara khusus, juga mempengaruhi sejarah Eropa): bahkan salah satu Imam besar Islam yaitu Imam Bukhari berasal dari Uzbekistan, pecahan Uni Soviet. Dalam bidang ilmiah saat masa kegelapan Eropa, umat Islam meraih banyak pencapaian ilmiah, dan kontak dengan budaya sains ala Islam ini menyebabkan berkembangnya metode ilmiah oleh ilmuwan Eropa, sekalian mengantarkan Eropa ke masa Pencerahan. Pengaruh Islam pada bidang literasi misalnya, penyair Perancis? Dante Alighieri menulis Divine Comedia yang (sayangnya) antara lain mengungkapkan kesan negatif terhadap Nabi Muhammad SAW, sedangkan Goethe dari Italia mengungkapkan kesan yang lebih positif pada Nabi Besar umat Muslim tersebut. Goethe antara lain dalam - secara tersirat mendukung bahwa penggunaan uang intrinsik seperti emas dan perak (seperti pada tradisi Arab) dibandingkan uang ekstrinsik seperti uang kertas. 
Khususnya pada Jerman, pandangan penduduk negeri Eropa terhadap Muslim dan Islam cukup beragam: Jerman sebagai negara perserikatan seperti AS, penduduk pada tiap negara bagian dapat memiliki pandangan yang berbeda. Ada yang terkesan toleran, ada pula yang cenderung curiga terhadap imigran (tak terkecuali imigran muslim). Sejarah penting hubungan Jerman dengan Muslim dapat dirunut dari perjanjian kerjasama Internasional untuk kembali membangun negaranya setelah hancur akibat perang dunia kedua. 
Jerman meneken perjanjian migran pekerja dari Turki (1961), Maroko (1963), dan Tunisia (1965). Imigrasi tenaga kerja besar-besaran ini, yang didominasi tenaga kerja dengan pola pendidikan sederhana dan masih memegang kuat tradisi Islam, mewarnai pola politik Jerman sampai sekarang. Penduduk Muslim di Jerman dengan demikian terbagi atas tiga bagian: imigran seperti pencari suaka, pekerja kasar, atau veteran perang; penduduk tak tetap seperti mahasiswa ataupun lulusan universitas; dan penduduk asli Jerman (muallaf/ anak dari orangtua yang menikah beda agama). 
Nilai-nilai dasar Islam seperti mengenai Tauhid, juga masalah sehari-hari seperti masalah puasa, kajian Al-Qur’an, jadwal salat, dll banyak dibahas di masjid-masjid Eropa, tak terkecuali di Jerman. Secara khusus, organisasi Islam Jerman (baik swasta maupun yang terkait pemerintah), mengajarkan Al-Qur’an pada anak-anak, masalah penentuan hari raya/ awal puasa pada umat muslim dewasa, dan diskusi ringan-serius mengenai masalah syariat Islam.(ltf)

Hilangnya Keberkahan Waktu


Sekarang ini kita hidup di zaman teknologi yang canggih. Berbagai fasilitas yang selama ini tidak dimiliki oleh generasi sebelum kita sudah bisa dinikmati dengan mudah. Jarak yang jauh pun bukan lagi menjadi kendala. Orang menyebutnya bahwa kita hidup di zaman modern dan globalisasi.
Namun nyatanya kemajuan tersebut tidak membuat kondisi ke-Islaman sebagian besar dari kita menjadi lebih baik. Buktinya meskipun ratusan ribu atau bahkan jutaan kitab dari para ulama terdahulu dengan mudah bisa kita dapatkan, nyatanya komitmen dan kemampuan kita untuk mempelajarinya tidak lebih baik dari para ulama terdahulu.
Padahal mereka memerlukan perjuangan yang luar biasa. Untuk mendapatkan satu hadits saja terkadang mereka harus melakukan perjalanan lebih dari sebulan ke negara lain. Sesuatu yang hampir mustahil dilakukan oleh orang dizaman sekarang.
Justru kita merasakan bahwa waktu yang kita miliki berjalan begitu cepat, tanpa mendapatkan apa yang selama ini kita inginkan. Boleh jadi beberapa tahun yang lalu kita punya keinginan untuk menghafal alquran, tapi lihat setelah beberapa tahun apa yang sudah kita dapatkan? Begitu juga dengan upaya untuk perbaiki diri pada beberapa aspek lainnya.
Terkadang nyaris belum ada perbaiki berarti dalam kehidupan kita, utamanya dalam perkara pemahaman terhadap agama ini dan ketaatan kita kepada Allah ta’ala. Padahal di sisi lain umur kita terus bertambah dan fisik kita semakin melemah.
Maka kiranya, perlu bagi kita untuk merenungkan hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam berkaitan dengan hilangnya keberkahan waktu. Bahkan beliau shollallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan hal ini sebagai salah satu tanda akan datangnya akhir zaman. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونُ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ وَالشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ وَتَكُونُ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ وَيَكُونُ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ وَتَكُونُ السَّاعَةُ كَالضَّرَمَةِ بِالنَّارِ
Tidak adakan ditegakkan hari kiamat sampai waktu didekatkan sehingga setahun terasa sebulan, sebulan terasa satu jumat, satu jumat terasa sehari, satu hari serasa sejam, sejam seperti satu kilatan api (HR. Tirmidzi)

Maknanya adalah bahwa ketika waktu berjalan ternyata hanya sedikit amalan yang bisa dilakukan karena sudah mulai dicabut keberkahan yang ada padanya.
Ibnu Hadjar rahimahulullah beliau mengatakan,
وقَدْ وُجِدَ فِي زَمَاننَا هَذَا فَإِنَّا نَجِد مِنْ سُرْعَة مَرَّ الْأَيَّام مَا لَمْ نَكُنْ نَجِدهُ فِي الْعَصْر الَّذِي قَبْلَ عَصْرنَا هَذَا
Sungguh telah kita temukan pada zaman kita sekarang dimana kita menemukan waktu begitu cepatnya berjalan dalam sehari yang tidak ditemukan pada waktu (ashar) dari masa (ashar) sebelum kita.
.
Jika saja pada masa Ibnu Hajar yang hidup pada abad ke sembilan keadaanya seperti itu, maka bagaimana dengan kita yang hidup pada abad ke lima belas ini. Tentu sebenarnya waktu berjalan lebih cepat lagi.
Imam Annawawi mengatakan,
فيَصِير الِانْتِفَاع بالْيَوْمِ مثلاً بِقَدْرِ الِانْتِفَاع بِالسَّاعَةِ الْوَاحِدَة
Sudah semakin singkatnya keberadaan waktu sehari seperti keadaan waktu satu jam saja.

Mengapa hal ini bisa terjadi sehingga keberkahan pada zaman ini sudah mulai diangkat?
Para ulama mengatakan bahwa hal ini disebabkan sudah mulai lemahnya keimanan di tengah masyarakat, dan sudah mulai dengan terang-terangan banyak orang yang menyelisihi syariat. Secara terang-terangan mereka melakukan kemaksiatan.
Begitu sulit bagi manusia yang hidup di zaman sekarang untuk hidup sesuai dengan tuntunan Islam. Banyak orang yang sudah terbiasa memakan makanan yang haram tanpa memperhatian apa yang ia makan dan bagaimana cara mendapatkan harta yang dimilikinya. Demikian juga dengan berbagai maksiat yang lain melalui mata, telinga, lisan dan anggota tubuh mereka lainnya.
Padahal keberkahan dalam rizki, tumbuhan dan semua aspek dalam kehidupan ini hanya akan muncul melalui kuatnya iman. Ketika seorang hamba mengikuti apa yang Allah ta’ala perintahkan dan menjauhkan diri dari semua larangan-Nya.
Hal ini sesuai dengan firman Allah ta’ala,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَاتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْأَرْضِ وَلٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S. Al A’raf: 96)

Oleh karena itu kita memohon kepada Allah ta’ala supaya kita bisa memperbaiki diri untuk semakin dekat kepada Allah ta’ala, sehingga keberkahan waktu pun akan kita rasakan. Aamin.

Lombok, Akhukum Fillah
Gonda Yumitro

Kewajiban Menuntut Ilmu dan Sifat Malas

   Ketika kita melihat ilustrasi poster di atas, kita pasti berpikir memang sudah sepantasnya kita harus menuntut ilmu setinggi langit. Bahkan pada poster tersebut tercantum ayat Al-Qur'an yang berbunyi,
"Allah akan meninggikan beberapa orang-orang yang beriman disekitarmu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat"
(Q.S. al-Mujadallah:11)
  Disitulah kelebihan orang yang beriman dan berilmu dibandingkan dengan orang yang beriman saja. Disitu, pada ayat itu dengan jelas menyatakan bahwa Allah SWT meninggikan beberapa derajat orang yang beriman dan berilmu dibandingkan orang yang hanya beriman saja. Sebab ketika kita hanya beriman saja, kita tidak akan mengetahui sebab apa kita harus beriman dan mengapa kita harus beriman. Dengan kita memiliki ilmu, maka wawasan kita akan terbuka dan bila kita imbangi dengan keimanan kita kepada Allah SWT, maka kita akan menyadari betapa besarnya nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Betapa besarnya kuasa Allah SWT terhadap alam semesta ini. Maka kita juga akan menyadari betapa kecilnya kita di mata Allah SWT. Namun ketika kita berilmu tetapi tidak diimbangi dengan keimanan kita kepada Allah SWT, kita akan cenderung mempergunakan ilmu tersebut tidak pada kaidahnya, bahkan bisa saja kita juga melawan kodrat yang diberikan Allah SWT kepada kita dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki tadi.
   Terlepas dari itu semua, permasalahan kita dalam menuntut ilmu sebenarnya hanya ada satu, yaitu malas. Ketika kita malas untuk menuntut ilmu, maka kita akan merasa lebih pintar daripada yang lain, namun kenyataannya tidak demikian. Penyebabnya adalah kita kurang belajar bahkan malas untuk belajar sehingga kita merasa kemampuan kita sudah melebihi orang-orang disekitar kita. Jadi walaupun kita punya pemikiran bahwa kita harus menuntut ilmu setinggi langit tetapi kita sendiri tidak menerapkannya karena kita sendiri yang ogah-ogahan ketika disuruh menuntut ilmu, lalu buat apa kita punya pemikiran seperti itu? Buat apa kita memiliki pemikiran tadi tetapi tidak diterapkan pada kehidupan kita sehari-hari? 
   Semoga ini menjadi bahan renungan kita bersama terutama bagi kita yang sedang berada di bangku sekolah maupun bangku kuliah termasuk saya sendiri. Semoga kita juga termasuk orang yang ditinggikan derajatnya di mata Allah SWT karena beriman dan berilmu. Karena bahwasannya kita menuntut ilmu ini tidak ada batasan waktu. Walaupun sampai usia senjapun kita juga harus tetap menuntut ilmu. Waktu menuntut ilmu kita berakhir ketika ruh kita telah dicabut dari raga kita untuk kembali kepada Allah SWT.

Luqman Aji Kusumo
Ketua Divisi Media Departemen Syiar Fosif ITS

Ketika Pengarang Alfiyah Dihinggapi Rasa Ujub

Ilustrasi. Sumber: http://nu.or.id/onefiles/nu_or_id/dinamic/mid/1446639177.jpg
Siapa tak kenal kitab Alfiyah? Seolah memancarkan berkah tak kunjung habis, nahdham seribu bait yang mengulas ilmu nahwu ini dipelajari terus di berbagai majelis ilmu hingga kini.
Pengarangnya, Al-‘Allâmah Abû ‘Abdillâh Muhammad Jamâluddîn ibn Mâlik at-Thâî atau tersohor dengan sebutan Ibnu Malik, merupakan pakar gramatika Arab ternama dari Andalusia (Spanyol). Alfiyah yang merupakan ringkasan karya sebelumnya, al-Kafiyah asy-Syafiyah, pun dipuji banyak cendekiawan, dan melahirkan berjilid-jilid kitab syarah dan karya komentar yang sudah tak terbilang.
Namun demikian, ada cerita menarik di sela proses penulisan muqaddimah nadham luar biasa yang masih dilantunkan di berbagai pesantren dan madrasah ini.
………………
وَأسْتَـعِيْنُ اللهَ فِيْ ألْفِــيَّهْ ¤ مَقَاصِدُ الْنَّحْوِ بِهَا مَحْوِيَّهْ
(Dan aku memohon kepada Allah untuk kitab Alfiyah, yang dengannya dapat mencakup seluruh materi Ilmu Nahwu)
تُقَرِّبُ الأَقْصَى بِلَفْظٍ مُوْجَزِ ¤ وَتَبْسُـطُ الْبَذْلَ بِوَعْدٍ مُنْجَزِ
(Mendekatkan pengertian yang jauh dengan lafadz yang ringkas serta dapat memberi penjelasan rinci dengan waktu yang singkat)
وَتَقْتَضِي رِضَاً بِغَيْرِ سُخْطِ ¤ فَـائِقَةً أَلْفِــــيَّةَ ابْنِ مُعْطِي
(Kitab ini menuntut kerelaan tanpa kemarahan, melebihi kitab Alfiyah-nya Ibnu Mu’thi)
Sampai di sini Ibnu Malik hendak menjelaskan kepada pembaca bahwa kitabnya lebih unggul dan komprehensif dari kitab karya ulama sebelumnya, yakni Yahya ibn Abdil Mu’thî ibn Abdin Nur Az-Zawâwi al-Maghribi atau Ibnu Mu'thi. Dalam kitab Hasyiyah al-'Allâmah Ibnu Hamdûn 'ala Syarhil Makûdî li Alfiyati ibn Mâlik dikisahkan, setelah itu Ibnu Malik meneruskannya dengan bait:
فَائِقَةً لَهَا بِأَلْفِ بَيْتٍ ¤ ................ 
(Mengunggulinya [karya Ibnu Mu’thi] dengan seribu bait,…....)
Belum sempurna bait ini dibuat, tiba-tiba saja Imam Ibnu Malik terhenti. Inspirasinya lenyap, tak mampu menulis apa yang hendak dilanjutkan. Suasana pikiran kosong semacam ini bahkan berlangsung sampai beberapa hari. Hingga kemudian ia bertemu seseorang dalam mimpi.
“Aku mendengar kau sedang mengarang Alfiyah tentang ilmu nahwu?”
“Betul,” sahut Ibnu Malik.
“Sampai di mana?”
Fâiqatan lahâ bi alfi baitin…”
“Apa yang membuatmu berhenti menuntaskan bait ini?”
“Aku lesu tak berdaya selama beberapa hari,” jawabnya lagi.
“Kau ingin menuntaskannya?”
“Ya.”
Lalu orang dalam mimpi itu menyambung bait فَائِقَةً لَهَا بِأَلْفِ بَيْتٍ yang terpotong dengan وَ اْلحَيُّ قَدْ يَغْلِبُ أَلْفَ مَيِّتٍ (Orang hidup memang terkadang bisa menaklukkan seribu orang mati). Terang saja, orang hidup meski cuma seorang dijamin sanggup mengalahkan berapa pun banyaknya orang yang tak punya kuasa pembelaan lantaran sudah mati.
Kalimat ini merupakan sindiran kepada Ibnu Malik atas rasa bangganya (‘ujub) terhadap kitab Alfiyah yang dianggap lebih bagus dari pengarang sebelumnya yang sudah wafat. Sebuah tamparan keras menghantam perasaan sang pengarang Alfiyah
Segera Ibnu Malik mengonfirmasi, “Apakah kau Ibnu Mu’thi?”
“Betul.”
Ibnu Malik insaf dan malu luar biasa. Pagi harinya seketika ia membuang potongan bait yang belum tuntas itu dan menggantinya dengan dua bait muqaddimah yang lebih sempurna:
وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً ¤ مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ
(Beliau [Ibnu Mu’thi] lebih istimewa karena lebih awal. Beliau berhak atas sanjunganku yang indah)
وَاللَّهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ ¤ لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ
(Semoga Allah melimpahkan karunianya yang luas untukku dan untuk beliau pada derajat-derajat tinggi akhirat)
Kisah di atas mengungkap pesan bahwa tak ada seorang pun yang bisa beranggapan keilmuannya secara mutlak lebih unggul dari ulama sebelumnya. Uraian Ibnu Malik dalam Alfiyah-nya mungkin lebih lengkap dan detail dari karya Ibnu Mu’thi, tapi karya pendahulu tetap lebih penting karena memberi dasar-dasar rintisan bagi karangan ulama berikutnya. Dalam sebuah hadits disebutkan: âbâukum khairun min abnâikum ilâ yaumil qiyâmah (para pendahulu [pelopor] lebih baik dari generasi penerus hingga hari kiamat).
Cerita tersebut juga mengingatkan kita tentang pentingnya tetap dalam ketawadukan. Capaian puncak prestasi tertentu, sehebat apapun, menjadi rendah ketika disikapi dengan kecongkakan. Ibnu Malik sempat sedikit tergelincir ke arah itu, lantas segera berbenah. Alhasil, karyanya terus mengalirkan pengetahuan dan berkah, bak mata air yang tak kunjung padam hingga sekarang. 
(Mahbib Khoiron)

Definisi, Sejarah Ringkas, dan Perbandingan Agama-Agama


Ilustrasi, Sumber Gambar: https://randaka.files.wordpress.com/2012/03/agama-dunia.jpg
Agama adalah salah satu hal yang sudah hadir sejak sangat lama, barangkali nyaris setua peradaban manusia sendiri. Agama tumbuh dan berkembang dengan pesat selama beberapa ribu tahun terakhir, dan berlawanan dengan prediksi beberapa pengamat sekular yang cenderung membenci atau setidaknya mengkritik konsep tentang agama, penulis pribadi percaya agama akan tetap eksis sampai akhir peradaban umat manusia kendati benar bahwa pada abad ini pengaruh sebagian agama merosot antara lain akibat kemajuan sains. Penulis percaya bahwa kemajuan sains tidak akan lantas menghapus keberadaan agama sepenuhnya. Agama adalah salah satu hal mendasar yang mendidik manusia menjadi lebih baik, mendahului kehadiran Codex Hammurabi atau mulainya kemunculan konsep hukum negara manapun. Terlepas dari semua kritik yang dilontarkan oleh para sosiolog sekular, agama telah menjaga umat manusia sehingga bisa tetap eksis sampai sekarang.

Ini Beda Penyembelihan Hewan Cara Islam dan Barat

Ilustrasi Penyembelihan Cara Islam dan Cara Barat, Sumber: http://www.hidayatullah.com/
           Banyak tuduhan telah dibuat bahwa tindakan penyembelihan cara Islam merupakan tindakan tidak menghormati hewan. Namun, Profesor Schultz dan rekannya Dr Hazim melalui eksperimennya, yang menggunakan Electroencephalogram (EEG – alat yang mencatat aktivitas listrik otak) dan Electrocardiogram (EKG – alat yang mencatat gelombang listrik yang dihasilkan oleh detak jantung) bahwa: 1. Cara penyembelihan Islam merupakan metode manusiawi; dan, 2. Captive bolt stunning, yakni metode Barat berupa tembakan untuk membuat pingsan binatang (yang semestinya dimaksudkan agar tidak menimbulkan rasa sakit pada binatang saat disembelih), justru dapat menyebabkan rasa sakit parah pada hewan.
Penyembelihan ternak (halal) merupakan metode yang baik dalam menyediakan daging higienis kepada konsumen. Ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan Profesor Schultz dan rekannya Dr.Hazim dari Universitas Hanover, Jerman, tentang metode penyembelihan hewan dan cara-caranya yang pantas.
      Rincian eksperimentalnya sebagai berikut. Beberapa elektroda ditanamkan di berbagai titik di kerangka semua hewan melalui operasi, serta juga diletakkan di permukaan otak. Hewan-hewan itu kemudian dipulihkan selama beberapa minggu.
      Beberapa hewan kemudian disembelih dengan cara yang cepat, dilakukan sayatan mendalam dengan pisau tajam di leher, dengan memotong vena jugularis dan arteri karotid di dua sisi, juga di trakea dan esofagus, sebagaimana metode halal. Sementara beberapa hewan lainnya menggunakan metode captive bolt stunning. EEG dan ECG kemudian digunakan pada semua hewan untuk merekam kondisi otak dan jantung saat dilakukan penyembelihan cara halal dan penembakan pemingsanan cara Barat.
     Hasil yang didapatkan dari penyembelihan cara Islam: Tiga detik pertama saat dilakukan penyembelihan Islam –yang tercatat pada EEG– tidak menunjukkan perubahan dari grafik sebelum disembelih, yang mengindikasikan bahwa hewan tersebut tidak merasa sakit selama atau beberapa saat setelah insisi. Selama 3 detik berikutnya, EEG mencatat kondisi ‘tidur nyenyak’ –tidak sadar. Hal ini disebabkan darah yang memancar keluar dari tubuh dalam jumlah besar. Setelah fase-fase selama 6 detik tersebut, EEG mencatat level nol, menunjukkan binatang tidak lagi merasakan sakit sama sekali.
      Saat pesan menuju otak (EEG) turun ke level nol, jantung masih berdebar dan tubuh masih kejang-kejang keras sebagai tindakan refleks sumsum tulang belakang, untuk mendorong darah keluar maksimal dari tubuh, sehingga daging menjadi higienis bagi konsumen.
     Untuk ini kita dapat mendalami hadist dari Al Syaddad Bin Aus r.a mengutip dari Nabi (shallallahu ‘alayhi wasallam), 
“Allah memerintahkan untuk melakukan kasih sayang kepada segala hal, maka berkasihsayanglah jika kalian membunuh dan jika kalian menyembelih.”
Sumber: http://www.hidayatullah.com/iptekes/saintek/read/2014/12/10/34767/ini-beda-penyembelihan-hewan-cara-islam-dan-barat.html

Islam dan Ilmu Pengetahuan

    Umat islam saat ini identik dengan masyarakat terbelakang dan miskin. Tercatat menurut data dunia bahwa kebanyakan negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim masih memiliki pedapatan kapita di level very low dan midle low. Hanya sebagian kecil dari negara-negara tersebut yang masuk dalam kategori midle, midle high, dan high seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Arab Saudi, Mesir, dan Uni Emirat Arab.
    Dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pun umat islam masih jauh tertinggal umat lainnya. Publikasi ilmiah dan penerima peghargaan di bidang ilmu pengetahuan kebanyakan masih dikuasai oleh negara-negara barat. Padahal di masa kejayaannya, umat islam pernah mengalami peradaban yang paling maju di dunia disebabkan berkembangnya ilmu pengetahuan. Salah satu bukti perkembangan ilmu pengetahuan di masa lalu adalah sebuah bangunan observatorium tertua di dunia yang terdapat di Uzbekistan.
    Kemunduran peradaban islam saat ini terjadi akibat kurangnya partisipasi umat islam di bidang ilmu pengetahuan. Padahal di Al-Quran dikatakan bahwa orang yang beriman dan berilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah. “...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah [58]:11).
Rasulullah SAW bersabda, “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim”. Dari hadits tersebut para ulama berpendapat bahwa hukum menuntut ilmu adalah fardhu (wajib). Hukum menuntut ilmu bisa menjadi fardhu 'ain (wajib bagi setiap orang) atau fardhu kifayah (wajib bagi sebagian orang).      
     Menuntut ilmu yang hukumnya fardhu 'ain adalah untuk ilmu yang berhubungan dengan ibadah seperti sholat, puasa, zakat, dan lainnya. Sedangkan hukum fardhu kiafayah adalah untuk ilmu yang berhubungan dengan urusan dunia seperti ilmu kedokteran, astronomi, geografi, dan seterusnya.Terdapat beberapa keutamaan bagi orang yang mau menuntut ilmu. Dalam sebuah hadits dikatakan:
“Barangsiapa berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga”(H.R. Muslim)
Kelebihan dari orang berilmu atas ahli ibadah dikatakan dalam hadits:
“Seperti bulan atas seluruh bintang”
Artinya cahaya (kemuliaan) dari seorang yang berilmu lebih terang dari  ratusan orang yang ahli ibadah.
        Selayaknya umat islam saat ini lebih berperan aktif dalam bidang ilmu pengetahuan. Karena dengan menguasai ilmu pengetahuan maka akan dapat menjadi modal pembangunan dan mengulang kembali kemajuan peradaban islam.

Oleh:
Dr. rer. nat. Bintoro A. Subagyo, M.Si

Jangan Remehkan Perbuatan Baik Sekecil Apapun

Ibnu al Qayyim al Jauziyah berkata:

Jangan kamu rusak kebahagiaanmu dengan rasa cemas!

Jangan rusak akalmu dengan kepesimisan!

Jangan rusak keberhasilanmu dengan kepongahan!

Jangan rusak keoptimisan orang lain dengan menjatuhkan mentalnya!

Jangan rusak harimu sekarang dengan melihat hari kemarin!

Kalau kamu perhatikan kondisi dirimu, kamu pasti menemukan bahwa Allah telah memberimu segala sesuatu tanpa kamu minta.

Oleh karena itu yakinlah bahwa Allah tidak akan menghalangi dirimu dari kebutuhan yang kamu inginkan, kecuali dibalik keterhalangan itu ada kebaikan.

Barangkali saja kamu sedang tidur pulas, sementara pintu-pintu langit diketuk puluhan do'a yang ditujukan untukmu, yang berasal dari orang fakir dan miskin yang kamu bantu, atau orang sedih yang kamu hibur, atau dari orang lewat yang kamu senyum kepadanya, atau orang dalam kesempitan yang kamu beri kelapangan. Maka jangan sekali-kali memandang kecil segala perbuatan baik untuk selamanya.

Sujud

Orang Sujud
Ilustrasi Orang Sedang Bersujud
Bagaimana kau hendak bersujud pasrah,
Sedang wajahmu yang bersih sumringah,
Keningmu yang mulia dan indah begitu pongah
Minta sajadah agar tak menyentuh tanah
Apakah kau melihatnya seperti iblis saat menolak
Menyembah bapamu dengan congkak
Tanah hanya patut diinjak, tempat kencing dan berak,
Membuang ludah dan dahak
Atau paling jauh hanya lahan
Pemanjaan nafsu serakah dan tamak

Apakah kau lupa bahwa
Tanah adalah bapa dari mana ibumu dilahirkan
Tanah adalah ibu yang menyusuimu dan memberi makan
Tanah adalah kawan yang memelukmu dalam kesendirian
Dalam perjalanan panjang menuju keabadian

Singkirkan saja sajadah mahalmu
Ratakan keningmu
Ratakan heningmu
Tanahkan wajahmu
Pasrahkan jiwamu
Biarlah rahmat agung Allah
Membelaimu dan terbanglah kekasih

-Gus Mus-

Tujuh Kunci Kebahagiaan menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA.

Ilustrasi Kebahagiaan
Ilustrasi Kebahagiaan
 sumber: http://kariemillspaugh.com/wp-content/uploads/2015/03/happy333.jpg

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Malam ini Fosif akan membeberkan beberapa kunci. Lho kok kunci? Iya emang kunci, tapi kunci yang ini bisa mendatangkan kebahagiaan bagi diri sendiri maupun orang lain. Mau tahu kunci apa itu? Yuk simak baik-baik Tujuh Kunci Kebahagiaan menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA.
  • Jangan membenci siapapun, walau ada yang menyalahi hakmu.
  • Jangan pernah bersedih secara berlebihan, sekalipun masalah memuncak
  • Hiduplah dalam kesederhanaan, sekalipun serba ada
  • Berbuatlah kebaikan, sekalipun banyak musibah
  • Perbanyaklah memberi walaupun anda sedang susah
  • Tersenyumlah walaupun hatimu sedang menangis
  • Jangan memutus doa untuk saudara mukmin
Nah demikian Tujuh Kunci Kebahagiaan menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

3 Syarat dari Semut untuk Nabi Sulaiman

Ilustrasi cerita semut
Ilustrasi: Semut
Pada Suatu hari, ketika Nabi Sulaiman a.s. tengah berbaring, ada seekor semut berjalan di dadanya. Kemudian ia ambil semut itu dan dilemparnya jauh. Dengan marah, semut itu berkata, "Wahai Nabi Allah, mengapa engkau lemparkan aku dengan begitu keras? Apakah kamu lupa bahwa pada hari kiamat nanti kamu akan berdiri di hadapan pencipta segala kerajaan, yaitu Tuhannya langit dan bumi, yang Maha Adil, yang mengambil hak orang yang dizalimi dari orang yang mendzaliminya?"