Siifah 1

Mengenal Islam secara Kaffah

Kuantum

Kehidupan Muslim Britania Raya

Safari LDJ

Fosif (LDJ Fisika) dan Forsis (LDJ Statistika)

Tampilkan postingan dengan label Taujih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujih. Tampilkan semua postingan

Hilangnya Keberkahan Waktu


Sekarang ini kita hidup di zaman teknologi yang canggih. Berbagai fasilitas yang selama ini tidak dimiliki oleh generasi sebelum kita sudah bisa dinikmati dengan mudah. Jarak yang jauh pun bukan lagi menjadi kendala. Orang menyebutnya bahwa kita hidup di zaman modern dan globalisasi.
Namun nyatanya kemajuan tersebut tidak membuat kondisi ke-Islaman sebagian besar dari kita menjadi lebih baik. Buktinya meskipun ratusan ribu atau bahkan jutaan kitab dari para ulama terdahulu dengan mudah bisa kita dapatkan, nyatanya komitmen dan kemampuan kita untuk mempelajarinya tidak lebih baik dari para ulama terdahulu.
Padahal mereka memerlukan perjuangan yang luar biasa. Untuk mendapatkan satu hadits saja terkadang mereka harus melakukan perjalanan lebih dari sebulan ke negara lain. Sesuatu yang hampir mustahil dilakukan oleh orang dizaman sekarang.
Justru kita merasakan bahwa waktu yang kita miliki berjalan begitu cepat, tanpa mendapatkan apa yang selama ini kita inginkan. Boleh jadi beberapa tahun yang lalu kita punya keinginan untuk menghafal alquran, tapi lihat setelah beberapa tahun apa yang sudah kita dapatkan? Begitu juga dengan upaya untuk perbaiki diri pada beberapa aspek lainnya.
Terkadang nyaris belum ada perbaiki berarti dalam kehidupan kita, utamanya dalam perkara pemahaman terhadap agama ini dan ketaatan kita kepada Allah ta’ala. Padahal di sisi lain umur kita terus bertambah dan fisik kita semakin melemah.
Maka kiranya, perlu bagi kita untuk merenungkan hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam berkaitan dengan hilangnya keberkahan waktu. Bahkan beliau shollallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan hal ini sebagai salah satu tanda akan datangnya akhir zaman. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونُ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ وَالشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ وَتَكُونُ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ وَيَكُونُ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ وَتَكُونُ السَّاعَةُ كَالضَّرَمَةِ بِالنَّارِ
Tidak adakan ditegakkan hari kiamat sampai waktu didekatkan sehingga setahun terasa sebulan, sebulan terasa satu jumat, satu jumat terasa sehari, satu hari serasa sejam, sejam seperti satu kilatan api (HR. Tirmidzi)

Maknanya adalah bahwa ketika waktu berjalan ternyata hanya sedikit amalan yang bisa dilakukan karena sudah mulai dicabut keberkahan yang ada padanya.
Ibnu Hadjar rahimahulullah beliau mengatakan,
وقَدْ وُجِدَ فِي زَمَاننَا هَذَا فَإِنَّا نَجِد مِنْ سُرْعَة مَرَّ الْأَيَّام مَا لَمْ نَكُنْ نَجِدهُ فِي الْعَصْر الَّذِي قَبْلَ عَصْرنَا هَذَا
Sungguh telah kita temukan pada zaman kita sekarang dimana kita menemukan waktu begitu cepatnya berjalan dalam sehari yang tidak ditemukan pada waktu (ashar) dari masa (ashar) sebelum kita.
.
Jika saja pada masa Ibnu Hajar yang hidup pada abad ke sembilan keadaanya seperti itu, maka bagaimana dengan kita yang hidup pada abad ke lima belas ini. Tentu sebenarnya waktu berjalan lebih cepat lagi.
Imam Annawawi mengatakan,
فيَصِير الِانْتِفَاع بالْيَوْمِ مثلاً بِقَدْرِ الِانْتِفَاع بِالسَّاعَةِ الْوَاحِدَة
Sudah semakin singkatnya keberadaan waktu sehari seperti keadaan waktu satu jam saja.

Mengapa hal ini bisa terjadi sehingga keberkahan pada zaman ini sudah mulai diangkat?
Para ulama mengatakan bahwa hal ini disebabkan sudah mulai lemahnya keimanan di tengah masyarakat, dan sudah mulai dengan terang-terangan banyak orang yang menyelisihi syariat. Secara terang-terangan mereka melakukan kemaksiatan.
Begitu sulit bagi manusia yang hidup di zaman sekarang untuk hidup sesuai dengan tuntunan Islam. Banyak orang yang sudah terbiasa memakan makanan yang haram tanpa memperhatian apa yang ia makan dan bagaimana cara mendapatkan harta yang dimilikinya. Demikian juga dengan berbagai maksiat yang lain melalui mata, telinga, lisan dan anggota tubuh mereka lainnya.
Padahal keberkahan dalam rizki, tumbuhan dan semua aspek dalam kehidupan ini hanya akan muncul melalui kuatnya iman. Ketika seorang hamba mengikuti apa yang Allah ta’ala perintahkan dan menjauhkan diri dari semua larangan-Nya.
Hal ini sesuai dengan firman Allah ta’ala,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَاتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْأَرْضِ وَلٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S. Al A’raf: 96)

Oleh karena itu kita memohon kepada Allah ta’ala supaya kita bisa memperbaiki diri untuk semakin dekat kepada Allah ta’ala, sehingga keberkahan waktu pun akan kita rasakan. Aamin.

Lombok, Akhukum Fillah
Gonda Yumitro

Taujih Visual: Evaluasi Akhir Semester dan Evaluasi Kejujuran




Kewajiban Menuntut Ilmu dan Sifat Malas

   Ketika kita melihat ilustrasi poster di atas, kita pasti berpikir memang sudah sepantasnya kita harus menuntut ilmu setinggi langit. Bahkan pada poster tersebut tercantum ayat Al-Qur'an yang berbunyi,
"Allah akan meninggikan beberapa orang-orang yang beriman disekitarmu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat"
(Q.S. al-Mujadallah:11)
  Disitulah kelebihan orang yang beriman dan berilmu dibandingkan dengan orang yang beriman saja. Disitu, pada ayat itu dengan jelas menyatakan bahwa Allah SWT meninggikan beberapa derajat orang yang beriman dan berilmu dibandingkan orang yang hanya beriman saja. Sebab ketika kita hanya beriman saja, kita tidak akan mengetahui sebab apa kita harus beriman dan mengapa kita harus beriman. Dengan kita memiliki ilmu, maka wawasan kita akan terbuka dan bila kita imbangi dengan keimanan kita kepada Allah SWT, maka kita akan menyadari betapa besarnya nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Betapa besarnya kuasa Allah SWT terhadap alam semesta ini. Maka kita juga akan menyadari betapa kecilnya kita di mata Allah SWT. Namun ketika kita berilmu tetapi tidak diimbangi dengan keimanan kita kepada Allah SWT, kita akan cenderung mempergunakan ilmu tersebut tidak pada kaidahnya, bahkan bisa saja kita juga melawan kodrat yang diberikan Allah SWT kepada kita dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki tadi.
   Terlepas dari itu semua, permasalahan kita dalam menuntut ilmu sebenarnya hanya ada satu, yaitu malas. Ketika kita malas untuk menuntut ilmu, maka kita akan merasa lebih pintar daripada yang lain, namun kenyataannya tidak demikian. Penyebabnya adalah kita kurang belajar bahkan malas untuk belajar sehingga kita merasa kemampuan kita sudah melebihi orang-orang disekitar kita. Jadi walaupun kita punya pemikiran bahwa kita harus menuntut ilmu setinggi langit tetapi kita sendiri tidak menerapkannya karena kita sendiri yang ogah-ogahan ketika disuruh menuntut ilmu, lalu buat apa kita punya pemikiran seperti itu? Buat apa kita memiliki pemikiran tadi tetapi tidak diterapkan pada kehidupan kita sehari-hari? 
   Semoga ini menjadi bahan renungan kita bersama terutama bagi kita yang sedang berada di bangku sekolah maupun bangku kuliah termasuk saya sendiri. Semoga kita juga termasuk orang yang ditinggikan derajatnya di mata Allah SWT karena beriman dan berilmu. Karena bahwasannya kita menuntut ilmu ini tidak ada batasan waktu. Walaupun sampai usia senjapun kita juga harus tetap menuntut ilmu. Waktu menuntut ilmu kita berakhir ketika ruh kita telah dicabut dari raga kita untuk kembali kepada Allah SWT.

Luqman Aji Kusumo
Ketua Divisi Media Departemen Syiar Fosif ITS

Ketika Pengarang Alfiyah Dihinggapi Rasa Ujub

Ilustrasi. Sumber: http://nu.or.id/onefiles/nu_or_id/dinamic/mid/1446639177.jpg
Siapa tak kenal kitab Alfiyah? Seolah memancarkan berkah tak kunjung habis, nahdham seribu bait yang mengulas ilmu nahwu ini dipelajari terus di berbagai majelis ilmu hingga kini.
Pengarangnya, Al-‘Allâmah Abû ‘Abdillâh Muhammad Jamâluddîn ibn Mâlik at-Thâî atau tersohor dengan sebutan Ibnu Malik, merupakan pakar gramatika Arab ternama dari Andalusia (Spanyol). Alfiyah yang merupakan ringkasan karya sebelumnya, al-Kafiyah asy-Syafiyah, pun dipuji banyak cendekiawan, dan melahirkan berjilid-jilid kitab syarah dan karya komentar yang sudah tak terbilang.
Namun demikian, ada cerita menarik di sela proses penulisan muqaddimah nadham luar biasa yang masih dilantunkan di berbagai pesantren dan madrasah ini.
………………
وَأسْتَـعِيْنُ اللهَ فِيْ ألْفِــيَّهْ ¤ مَقَاصِدُ الْنَّحْوِ بِهَا مَحْوِيَّهْ
(Dan aku memohon kepada Allah untuk kitab Alfiyah, yang dengannya dapat mencakup seluruh materi Ilmu Nahwu)
تُقَرِّبُ الأَقْصَى بِلَفْظٍ مُوْجَزِ ¤ وَتَبْسُـطُ الْبَذْلَ بِوَعْدٍ مُنْجَزِ
(Mendekatkan pengertian yang jauh dengan lafadz yang ringkas serta dapat memberi penjelasan rinci dengan waktu yang singkat)
وَتَقْتَضِي رِضَاً بِغَيْرِ سُخْطِ ¤ فَـائِقَةً أَلْفِــــيَّةَ ابْنِ مُعْطِي
(Kitab ini menuntut kerelaan tanpa kemarahan, melebihi kitab Alfiyah-nya Ibnu Mu’thi)
Sampai di sini Ibnu Malik hendak menjelaskan kepada pembaca bahwa kitabnya lebih unggul dan komprehensif dari kitab karya ulama sebelumnya, yakni Yahya ibn Abdil Mu’thî ibn Abdin Nur Az-Zawâwi al-Maghribi atau Ibnu Mu'thi. Dalam kitab Hasyiyah al-'Allâmah Ibnu Hamdûn 'ala Syarhil Makûdî li Alfiyati ibn Mâlik dikisahkan, setelah itu Ibnu Malik meneruskannya dengan bait:
فَائِقَةً لَهَا بِأَلْفِ بَيْتٍ ¤ ................ 
(Mengunggulinya [karya Ibnu Mu’thi] dengan seribu bait,…....)
Belum sempurna bait ini dibuat, tiba-tiba saja Imam Ibnu Malik terhenti. Inspirasinya lenyap, tak mampu menulis apa yang hendak dilanjutkan. Suasana pikiran kosong semacam ini bahkan berlangsung sampai beberapa hari. Hingga kemudian ia bertemu seseorang dalam mimpi.
“Aku mendengar kau sedang mengarang Alfiyah tentang ilmu nahwu?”
“Betul,” sahut Ibnu Malik.
“Sampai di mana?”
Fâiqatan lahâ bi alfi baitin…”
“Apa yang membuatmu berhenti menuntaskan bait ini?”
“Aku lesu tak berdaya selama beberapa hari,” jawabnya lagi.
“Kau ingin menuntaskannya?”
“Ya.”
Lalu orang dalam mimpi itu menyambung bait فَائِقَةً لَهَا بِأَلْفِ بَيْتٍ yang terpotong dengan وَ اْلحَيُّ قَدْ يَغْلِبُ أَلْفَ مَيِّتٍ (Orang hidup memang terkadang bisa menaklukkan seribu orang mati). Terang saja, orang hidup meski cuma seorang dijamin sanggup mengalahkan berapa pun banyaknya orang yang tak punya kuasa pembelaan lantaran sudah mati.
Kalimat ini merupakan sindiran kepada Ibnu Malik atas rasa bangganya (‘ujub) terhadap kitab Alfiyah yang dianggap lebih bagus dari pengarang sebelumnya yang sudah wafat. Sebuah tamparan keras menghantam perasaan sang pengarang Alfiyah
Segera Ibnu Malik mengonfirmasi, “Apakah kau Ibnu Mu’thi?”
“Betul.”
Ibnu Malik insaf dan malu luar biasa. Pagi harinya seketika ia membuang potongan bait yang belum tuntas itu dan menggantinya dengan dua bait muqaddimah yang lebih sempurna:
وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً ¤ مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ
(Beliau [Ibnu Mu’thi] lebih istimewa karena lebih awal. Beliau berhak atas sanjunganku yang indah)
وَاللَّهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ ¤ لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ
(Semoga Allah melimpahkan karunianya yang luas untukku dan untuk beliau pada derajat-derajat tinggi akhirat)
Kisah di atas mengungkap pesan bahwa tak ada seorang pun yang bisa beranggapan keilmuannya secara mutlak lebih unggul dari ulama sebelumnya. Uraian Ibnu Malik dalam Alfiyah-nya mungkin lebih lengkap dan detail dari karya Ibnu Mu’thi, tapi karya pendahulu tetap lebih penting karena memberi dasar-dasar rintisan bagi karangan ulama berikutnya. Dalam sebuah hadits disebutkan: âbâukum khairun min abnâikum ilâ yaumil qiyâmah (para pendahulu [pelopor] lebih baik dari generasi penerus hingga hari kiamat).
Cerita tersebut juga mengingatkan kita tentang pentingnya tetap dalam ketawadukan. Capaian puncak prestasi tertentu, sehebat apapun, menjadi rendah ketika disikapi dengan kecongkakan. Ibnu Malik sempat sedikit tergelincir ke arah itu, lantas segera berbenah. Alhasil, karyanya terus mengalirkan pengetahuan dan berkah, bak mata air yang tak kunjung padam hingga sekarang. 
(Mahbib Khoiron)

Tatkala Menganggap Diri Lebih Baik dan Benar

Ilustrasi, Sumber: http://www.nu.or.id/onefiles/nu_or_id/dinamic/mid/1437061889.jpg

Ibrahim bin Adham suatu ketika sedang berjalan di tepi pantai. Tanpa sengaja, matanya melirik sepasang manusia berduaan dengan begitu mesranya. Terlintas di benak sufi ini bahwa sepasang kekasih itu sedang dimabuk cinta. Bukan hanya mabuk cinta, ternyata mereka juga sedang mabuk dalam arti yang sesungguhnya. Terlihat di sekeliling mereka beberapa botol minuman berseliweran, terdapat bekas botol yang baru saja selesai dikosongkan isinya. Beberapa saat, Ibrahim bin Adham terkesima dengan pemandangan yang dia lihat sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia berpikir betapa musykilnya sepasang manusia ini, bermaksiat sedemikian mudahnya, seakan tak ada dosanya.

Pelajaran dari Anak Suku Indian

     
       Dunia ini penuh warna. Ada beragam suku bangsa. Banyak budaya dan bahasa. Banyak hal yang bisa dipelajari bersama. Banyak ranah bisa saling berbagi dan bertukar pikiran. Banyak orang bisa saling mengenal dan bercengkrama. Sungguh, Tuhan Maha Bijaksana dengan penciptaan-Nya. Setiap suku punya kekhasan tertentu yang Tuhan anugerahkan tiada tara. Kekhasan itu bukannya hampa nilai, namun ada sisi ibrah, pesan moral, dan filosofi di balik peristiwa.
     Tersebutlah kisah proses pendidikan anak di sebuah suku pedalaman. Suku dari etnis Indian ini memiliki cara unik untuk mendewasakan anak laki-laki mereka. Ketika seorang anak dianggap sudah cukup umur untuk menjadi dewasa, maka sang anak itu akan diuji. Tidak semua anak bisa langsung disebut dewasa tanpa lulus dari tes maha berat ini. Pada malam yang telah ditentukan, si anak akan dibawa pergi oleh seorang pria yang bukan keluargaya, dengan mata tertutup. Anak tersebut dibawa jauh ke tengah hutan belantara. Saat hari sudah gelap pekat, tutup akan matanya dibuka. Kemudian sang anak akan ditinggalkan sendirian.
     Anak ini akan dinyatakan lulus dan diterima sebagai pria dewasa dalam komunitas jika selama malam ujian itu ia tidak berteriak atau menangis sampai pagi. Si anak harus mengikuti prosesi ini sendirian. Nyalinya benar-benar diuji. Waktu yang ditentukan itu terjadi di malam yang begitu gelap gulita, bahkan siapapun tidak dapat melihat telapak tangannya sendiri. Dengan kondisi ini, para anak-anak berusia tanggung pasti sangat ketakutan.
     Si anak harus menyiapkan mental untuk menghadapi ganasnya alam. Hawa udara yang dingin. Celah-celah hutan yang mengeluarkan suara menyeramkan. Bebunyian dahan gemerisik. Tak jarang, bahkan beberapa kali terdapat suara auman serigala. Tentunya, ketakutan si anak semakin menjadi-jadi. Tetapi ia tidak punya pilihan lain, selain diam, tidak boleh berteriak, atau menangis agar lulus dalam ujian. Keringat dingin akan mengucur deras dari seluruh pori-pori tubuhnya. Jika bisa, ia akan pergunakan segala doa supaya secercah sinar mentari disegerakan muncul di ufuk timur.
    Hingga akhirnya malam yang terasa paling lama dalam kehidupan si anak itu mulai berganti perlahan. Cahaya pagi mulai tampak sedikit demi sedikit. Kini, si anak merasakan kegirangan yang tiada tara. Ia begitu gembira, lalu melihat sekelilingnya. Dan betapa kagetnya, ketika tahu ternyata ayahnya berdiri tidak jauh di belakangnya. Sejak semalam suntuk sang ayah telah siap dengan berbagai senjata melindungi anaknya dari berbagai keganasan alam. Menjaga setiap jengkal lokasi anaknya sambil terus berdoa agar si anak tidak berteriak atau menangis atau bahkan keluar hutan.
    Saudaraku, Andaikan kisah tersebut kita kaitkan dengan kehidupan. Dalam keseharian kita mengarungi beragam drama. Kita analogikan saja jika anak-anak suku Indian itu adalah manusia. Sementara ayahnya adalah Tuhan Sang Maha Perkasa. Maka betapa sering kita baru terkaget dan menyadari di akhir atau bahkan tak pernah kita sadari. Tak pernah tahu akan kehadiran Sang Maha Penjaga dan Maha Pelindung di setiap jengkal langkah kita. Tak pernah terbayang akan penjagaan dan kasih sayang-Nya.
    Tuhan senantiasa bersama para hamba-Nya. Tak pernah sedetik pun melalaikan kita. Tak juga sejenak saja Tuhan membiarkan manusia hidup tanpa petunjuk di belantara hutan kehidupan dunia. Tuhan selalu dekat dalam bagaimana pun kondisi kita. Terlalu sering justru manusia yang melupakan Tuhan. Menyalahkan Tuhan yang Maha Baik. Menuduh Tuhan telah meninggalkannya. Mengira Tuhan telah berbuat tidak adil. Menuduh Tuhan tidak peduli. Padahal, di sebalik pengetahuan manusia yang sangat terbatas, Tuhan selalu dekat dengan segenap para hamba-Nya. Tuhan sangat penyayang dan peduli.
     Dari kisah itu, kita juga bisa mengambil ibrah bahwa dalam mengarungi hidup, mutlak dibutuhkan ujian. Anak sekolah dan mahasiswa membutuhkan ujian untuk mengukur kelulusannya. Para pelamar pekerjaan juga akan diuji untuk menunjukkan kualitas mereka. Dalam dunia olahraga pun dibutuhkan tes seleksi. Ujian adalah keharusan. Ujian sebagai diferensiasi antara satu individu dengan individu lainnya. Tanpa ujian, maka di dunia akan terkesan tidak adil.
Atas beragam ujian, maka tugas kita manusia adalah menjalaninya dengan sepenuh hati. Yakini bahwa Allah tidak pernah memberi ujian diluar batas kemampuan hamba. Bahwa Tuhan tidak akan menimpakan ujian yang tidak ada hikmah dibalik itu. Bahwa ketika kita diuji, maka Tuhan sedang berada di dekat kita. Layaknya sang anak yang dalam ujiannya di malam yang pekat, ada sang ayah yang berada di dekatnya. Dialah pelindung. Bahkan sebagai imbalannya, Tuhan akan mengugurkan dosa-dosa sang hamba yang diuji, mengangkat derajat, hingga menguatkan iman dan takwanya.

(Muhammad Ridha Basri, Redaktur Majalah Kibar; mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

 Sumber:  http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,51-id,61963-lang,id-c,hikmah-t,Pelajaran+dari+Anak+Suku+Indian-.phpx

Jangan Remehkan Perbuatan Baik Sekecil Apapun

Ibnu al Qayyim al Jauziyah berkata:

Jangan kamu rusak kebahagiaanmu dengan rasa cemas!

Jangan rusak akalmu dengan kepesimisan!

Jangan rusak keberhasilanmu dengan kepongahan!

Jangan rusak keoptimisan orang lain dengan menjatuhkan mentalnya!

Jangan rusak harimu sekarang dengan melihat hari kemarin!

Kalau kamu perhatikan kondisi dirimu, kamu pasti menemukan bahwa Allah telah memberimu segala sesuatu tanpa kamu minta.

Oleh karena itu yakinlah bahwa Allah tidak akan menghalangi dirimu dari kebutuhan yang kamu inginkan, kecuali dibalik keterhalangan itu ada kebaikan.

Barangkali saja kamu sedang tidur pulas, sementara pintu-pintu langit diketuk puluhan do'a yang ditujukan untukmu, yang berasal dari orang fakir dan miskin yang kamu bantu, atau orang sedih yang kamu hibur, atau dari orang lewat yang kamu senyum kepadanya, atau orang dalam kesempitan yang kamu beri kelapangan. Maka jangan sekali-kali memandang kecil segala perbuatan baik untuk selamanya.

Sudahkah Anda Bersyukur Hari Ini?

Sudahkah Anda Bersyukur Hari Ini?